image

Broker Musti Punya Regulasi

by dradjad 18-Jul-2014 Dibaca sebanyak : 1098 kali

Dengan latar belakang pendidikan bidang pertanahan, Agrarian Law, pertama kali saya bekerja di dua kantor Notaris, yang kedua di bidang batubara, yang ketiga di law firm Harry Hutagalung, sempat juga di kantor broker ERA, dan akhirnya saya memberanikan diri membuka law firm, karena broker ini hanyalah bagian kecil dari lingkup pertanahan, namun the whole pendidikan saya masuk di dalam dunia broker.

Saya masuk LJ Hooker karena ada perkenalan dengan Mas Petit dalam AREBI (Asosiasi Real Estate Broker Indonesia).  Saya sangat berterimakasih dan ini merupakan sebuah kehormatan, bahkan yang paling penting saya merasa dianggap sebagai anggota keluarga LJ Hooker, meskipun sifatnya tentatif dan klien terhadap kantor DBRM Law Office saya sendiri.  Kenapa saya masih mau menangani broker, alasannya adalah karena karir saya lahir dan bisa dikenal sebagai broker, selanjutnya memang tahap asosiasi dan personilnya lebih kepada person to person.

Harapan saya, broker punya regulasi dalam bentuk UU melalui nasionalisasi, minimal PERDA DKI, karena broker terpusat di JABODETABEK, nantinya Perda-Perda setiap daerah tinggal menyesuaikan saja. Mempertimbangkan kondisi di lapangan, pembangunan semacam Land Reform diharapkan merata di setiap daerah, rayonisasi dan bahkan produk percontohan melalui Perda akan lebih kuat.  Halangan terhadap proses regulasinya sendiri sebenarnya karena semua orang punya kepentingan, istilahnya “jaga warung masing-masing” sementara kalau kita membayar untuk perorangan, broker tidak mewadahi, ujung-ujungnya program legislatif itu bicara soal duit.  Kekurangan kita adalah dalam hal koordinasi, karena mereka punya kesibukan dan kepentingan masing-masing.

David Bonny Rotua Mahulae - Legal Advisor of LJ Hooker Indonesia

Kategori