Rasakan Kenyamanan Dalam Bekerja di LJ Hooker

Saya bergabung di LJ Hooker Serpong pada tahun 2011, dan saat ini sudah jalan di tahun ke-7. Sebelum bergabung di LJ Hooker saya bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan dan pelangsingan tubuh dan juga berjualan online, kadang-kadang juga menerima kerja desain grafis.

Saya tertarik masuk LJ Hooker karena saya tergoda pada saat melihat developer Sinarmas Land yang sedang membangun di area BSD (Bumi Serpong Damai). Saat itu saya masih bekerja di perusahaan sebelumnya dan kebetulan ditempatkan di BSD. Pada saat itu saya pikir di area yang sedang berkembang ini dengan developer setempat yang sedang getol-getolnya membangun area-area baru, sepertinya jualan rumah tidaklah terlalu sulit, karena stok rumah akan tersedia begitu banyak, nggak akan kehabisan stok. Lalu saya mencari-cari kantor agent property dan akhirnya saya menemukan LJ Hooker Serpong.

Di LJ Hooker, saya merasakan kenyamanan dalam bekerja. Teman-teman yang baik, dukungan kantor yang terus mengingatkan para marketing agar berkonsentrasi bekerja, support kantor dalam membiayai kegiatan pemasaran melalui media koran dan internet, hal-hal tersebut yang cukup membuat saya untuk tetap berada di kantor yang sama. Dan hasilnya yakni selama bergabung di LJ Hooker Serpong, saya berhasil mendapatkan predikat Achiever, 2 kali Winner, dan predikat Captain.

Dalam menghadapi para klien (vendor dan buyer) saya lebih mengutamakan pendekatan pertemanan dan keakraban. Selama di LJ Hooker saya hampir bisa dibilang belum pernah menghadapi kondisi sulit menghadapi situasi dan perbedaan karakter para klien. Saya belum pernah ditegur atau dimarahi klien, mungkin karena wajah saya imut-imut ya? Hehehe... Menurut saya pengetahuan detil tentang profesi kita yang meliputi pengetahuan tentang objek yang dijual-belikan, tentang surat dan tentang proses yang dijalankan dalam transaksi serta aspek hukum dan perpajakan wajib kita kuasai seluk beluknya, agar para klien dapat mempercayakan dan mendapatkan ketenangan transaksinya dengan bantuan kita. Dalam banyak transaksi, tidak kalah pentingnya adalah menguasai kondisi psikologis kita, bahwa kita harus tetap tenang, menahan emosi marah, kecewa, sebel, jangan menghabiskan energi dengan melampiaskan emosi kita, dengan memberikan komen-komen negatif terhadap klien kita atau kejadian yang tidak menyenangkan hati kita. Jika sedang menghadapi masalah dalam proses transaksi jual beli lebih sebaiknya langsung mencari solusi dan memikirkan alternatif-alternatif tindakan serta sikap yang bisa kita siapkan untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

Tahun 2012 saya mendapat titipan listing rumah kost di Cilandak yang lokasinya persis di depan pekuburan keluarga yang cukup luas areanya. Listing ini saya dapat dari referensi klien di tempat kerja sebelumnya. Rumah kost seluas 650m2 tersebut dipasang harga jual awal Rp. 12 Milyar. Secara lokasi dan harga sudah menjadi kendala, karena setelah saya survei harga pasar disana untuk luasan yang sama adalah sekitar 8 sd 9 Miliar saja. Tapi karena saya tahu bahwa yang dititipin rumah ini hanya saya saja (Pemilik rumah mengatakan bahwa agent lain yang pernah dititipin sudah lama tidak ada kabarnya), maka mau tak mau saya harus jalankan kegiatan pemasaran. Di tahun 2012 iklan di Kompas, masih sangat menjanjikan untuk mendapatkan klien/buyer, maka saya beriklan koran hampir setiap minggu dan memang ternyata cukup banyak yang menelpon saya. Hanya saja ketika para calon buyer tahu bahwa rumah tersebut berada di depan pekuburan, maka banyak yang langsung mundur. Seiring dengan berjalannya waktu, pemilik rumah menurunkan harganya, hasilnya respon iklan bertambah banyak namun banyak pula yang langsung mundur setelah tahu lokasinya. Sampai suatu ketika ada klien yang menelpon dan langsung saya jelaskan bahwa rumah berlokasi di depan pemakaman, dia bilang tidak apa-apa, karena ternyata klien ini punya kenangan sewaktu masa kanak-kanak dia tinggal persis disamping pekuburan, dan sampai tahun 2012 dia sering membawa anaknya yang sudah SMA ke lokasi pemakaman tersebut dan menceritakan bahwa ayahnya dulunya tinggal disebelah pekuburan tersebut. Akhirnya dengan tawar-menawar yang alot setelah klien mensurvei rumahnya 2x, terjadilah deal harga 8.5 Milyar. Alhamdulillah, jodoh memang tidak kemana-mana. Setiap rumah ada jodohnya meskipun di depan kuburan, hehehe...

Dan dari keberhasilan menjual rumah tersebut, si penjual tersebut mereferensikan bapak V (saya berhasil menjualkan 3 unit propertinya), dan dari klien V ini saya direferensikan lagi ke temannya yang bernama bapak R. Dan dari bapak R saya direferensikan lagi ke bapak S yang unitnya sampai saat ini masih menjadi listing saya. Jadi dari satu orang sumber  klien di tempat kerja sebelumnya (ibu D) nyambung ke ibu P (pemilik rumah Cilandak yang saya jualkan), nyambung ke bapak V kemudian ke bapak R dan ke bapak S, ada 5 orang yang diperhubungkan dalam satu jaringan. Hal ini mengingatkan saya bahwa setiap satu orang klien mempunyai jaringannya sendiri-sendiri dan setiap klien mempunyai value dalam keberlangsungan keprofesian kita sebagai agent property.

Di dalam profesi ke-agen-an ini kita harus bisa menyerap kemampuan dan pengetahuan berbagai orang untuk dijadikan pelajaran yang akan berguna dalam transaksi dan pelayanan kita terhadap klien-klien lama dan baru. Sumber pengetahuan dasar profesi agent sudah kita dapat dari training LJ Hooker pertama kali kita bergabung. Pengetahuan lainnya kita dapatkan dari meeting-meeting kantor bersama Principal. Pengetahuan juga bisa kita dapat dari setiap orang, karena setiap orang mempunyai pengalaman masing-masing yang unik. Kita harus terus belajar menghadapi kesulitan, sampai saking banyaknya kesulitan yang kita hadapi, tidak ada lagi jenis kesulitan yang tidak bisa kita handdle.


Irwan Suwita, PC LJ Hooker Serpong