Tahun 2017 Sebagai Titik Terang Kebangkitan Properti Indonesia

Tahun 2017 merupakan tahun dimana menurut para pengamat properti merupakan titik balik kebangkitan properti di negeri ini. Setelah melewati masa kemarau panjang di tahun-tahun sebelumnya, kini geliat kebangkitan properti sudah semakin menampakkan dirinya. Diamini oleh Country General Manager Rumah123.com, Ignatius Untung yang mengatakan bahwa tahun ini terjadi peningkatan yang cukup signifikan terhadap pencarian properti hunian dari semester yang sama di tahun 2016 sebesar 64,95%.

Pengajuan kredit kepemilikan rumah (KPR) pun tampak terjadi peningkatan berdasarkan data yang dikumpulkan oleh situs pencarian properti tersebut. Hal ini tampaknya tidak lepas dari sentimen positif perkembangan ekonomi Indonesia seperti penurunan suku bunga acuan 7-days reserve repo Bank Indonesia dan juga wacana penurunan loan to value (LTV).

Yang unik dari kebangkitan properti di tahun ini adalah dipicu dari maraknya generasi Milenial yang berbondong-bondong mencari rumah murah, dengan kisaran harga Rp. 250 juta. Lokasi terbaik dan sarat fasilitas. Menurut CEO Rumah.com, Wasudewan ada berbagai cara yang memungkinkan kaum Milenial ini untuk membeli hunian, antara lain melalui KPR yang disediakan oleh bank maupun menggunakan sumber pendanaan dari Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS-TK). Generasi Milenial disini adalah golongan masyarakat yang didominasi kaum muda usia 30-39 tahun alias generasi Y.

Selaras dengan pendapat-pendapat di atas, Managing Director of PT Megapolitan Developments, Ronald Wihardja mengatakan kelesuan industri properti sudah mencapai dasarnya dan tinggal menunggu masa pemulihan. Hal ini dibuktikan dengan telah terjualnya proyek yang tengah dikembangkan pihaknya sebesar 70% dari 830 unit apartemen yang ditawarkan.

Munculnya titik-titik cerah ini tidak lepas dari sentiment positif yang timbul seiring dengan pertumbuhan ekonomi 5,1% pada kuartal II yang turut mendorong naik indeks harga properti nasional.

Berdasarkan laporan Bank Indonesia tentang Analisis Uang Beredar pada Juli 2017, kredit sektor properti tumbuh 13,9 persen dalam setahun, lebih tinggi daripada Juni 2017 sebesar 12,1 persen dalam setahun.  Peningkatan pertumbuhan terjadi di kredit konstruksi, real estat, kredit pemilikan rumah (KPR), dan kredit pemilikan apartemen (KPA).

Pertumbuhan kredit konstruksi meningkat dari 20,8 persen menjadi 23,4 persen dan kredit real estat meningkat dari 10,4 persen menjadi 12,4 persen.  Sementara pertumbuhan KPR dan KPA meningkat dari 7,9 persen pada Juni 2017 menjadi 9,1 persen pada Juli 2017. Artinya, permintaan akan terus ada, tetapi segmennya yang harus sesuai sasaran.  Untuk properti menengah ke bawah, permintaan akan terus tinggi karena kebutuhan untuk memiliki rumah tinggal.

Menurut Panangian Simanungkalit, dari Panangian School of Property, kenaikan penyaluran KPR dan KPA pada Juli tahun ini dapat menjadi tanda bahwa sektor properti mulai pulih.  Sebab, sekitar 75 persen pembeli properti di Indonesia memanfaatkan KPR atau KPA untuk membeli properti.

Director LJ Hooker Indonesia, Bp. Oka Mahendra Kauripan juga optimis akan pertumbuhan ekonomi nasional di semester II ini, khususnya di sektor properti. Berdasarkan data yang dipaparkan Bp. Oka MK, LJ Hooker mencatat terjadinya peningkatan nilai transaksi sebesar 42% seluruh Indonesia sampai dengan pertengahan tahun ini dan diharapkan terus meningkat sampai akhir tahun. Secara jumlah enquiry baik untuk properti primary maupun secondary juga mengalami peningkatan, terutama setelah Idul Fitri kemarin.

Semoga dengan munculnya titik terang kebangkitan properti ini dapat menjadi motivasi untuk menambah semangat kerja seluruh insan properti tanah air, khususnya LJ Hooker. Mari rubah mind set kita dan segera tangkap peluang yang ada!

 

Disadur oleh          : Herry Setyawan, LJ Hooker Indonesia

Sumber                   :- Menanti Momentum Titik Balik, Media Indonesia, 5 September 2017

                                 - Sinyal Positif untuk Properti, Kompas, 4 September 2017